Paradoks Ganti Baju & Sebotol Shampoo

Hari ini, aku libur ngantor. aku sengaja menghabiskan soreku bersama teman2 dengan menyusuri Rindu Alam, sebuah sungai wisata orang kecilan di pinggiran Tapanuli... aku katakan sebagai tempat wisata orang kecilan karena aku lihat pengunjungnya rata2 masyarakat menengah ke bawah, makanan yang dijajakan pun makanan sederhana khas jajan kampung.

Ini adalah kali pertamaku datang ke Rindu Alam. Maklum, aku baru beberapa bulan bertugas di Kota ini. Rindu Alam sore ini begitu ramai dikunjungi orang. Sebagaimana teman2 yang lain, aku demikian menikmati pesona sungai ini. kejernihan airnya sungguh begitu menggoda... Sungai ini memang cukup dangkal, pada hari2 biasa bagian terdalam hanya sebatas dada orang dewasa, aliran airnya pun tidak terlalu deras sehingga aman buat siapa saja. Beberapa temanku langsung saja merangsek kedalamnya tanpa bisa menahan diri. Aku nyaris melakukan hal yang sama andaikan aku tak mendapati beberapa suguhan paradoks kehidupan yang membuatku sedikit mengernyitkan dahi…



Suguhan Pertama;
Belum genap satu menit kami tiba, seorang wanita setengah baya mengentaskan dirinya dari buaian air sungai. Sudah barang tentu, pakaian yang dikenakannya basah kuyup. Aku maklum, sebagai wisata alam orang kecilan, wajar jika tak tersedia fasilitas ruang ganti, dsb. Satu hal yang membuatku heran, Wanita tadi dengan cueknya berganti pakaian di keramaian, dimana puluhan pasang mata lelaki dewasa dengan bebas bisa menatapnya. dengan hanya selembar handuk kecil menutupi diri, dia berganti tak hanya pakaian luar, tapi juga pakaian dalam… sebenarnya aku malu, tapi hati setan remajaku mengajakku terus mengamatinya.

Mungkin bagi orang lain, ini hal yang wajar karena memang di tempat pemandian. Tapi bagiku, ini sangatlah tidak lazim. Sepanjang hidupku, baru kali ini kulihat hal seperti itu. Mungkin aku saja yang telalu lama tinggal di gua, atau memang orang jaman sekarang sudah kehilangan urat malu? Benarkah budaya orang kampung yang selama ini kuanggap masih sopan sudah berubah demikian?

Suguhan kedua;
Ketika pertunjukan pertama selesai, aku berjalan mendekat ke aliran air… dan dimulailah pertunjukan kedua. Sekarang giliran seorang nenek berpakaian lusuh yang menjadi objek pandang mataku. Wanita lanjut usia itu, sebagaimana pengunjung yang lain, asyik bermandikan air sungai. Kulihat nenek tersebut datang bersama beberapa orang yang kupikir mereka satu keluarga. Dengan membawa sebotol shampoo, si nenek berjalan ke tengah air sungai. Aksi berikutnya, si nenek menuangkan shampoo ke telapak tangannya. Lalu, dengan senyum mengembang penuh kebanggaan, diusapkannya shampoo tadi ke wajahnya alih-alih mengeramasi rambutnya. Busa putih merata di wajahnya, dan masih tetap dengan senyuman bahagia dia membilasnya. Detik-detik berikutnya, raut bahagia semakin terpancar di wajahnya. Dari sunggingannya, ku tahu Si nenek benar2 menikmati, hatinya seakan begitu damai, tanpa masalah sekecil apapun dibenaknya…

dalam hati aku berkata, “Subhanallah!!, betapa selama ini aku terlalu kufur nikmat”. Begitu mudahnya nenek itu merasa bahagia, hanya dengan nikmat air sungai dan sebotol shampoo yang dia tak tahu manfaat sebenarnya. Sedang aku, pendapatanku sangat berlebih jika hanya untuk sebotol shampoo biasa, tapi tidak untuk sebotol shampoo kebahagiaan. Aku selalu mengeluh, hingga aku lupa akan limpahan nikmat yang telah Allah berikan padaku…

akhirnya, aku tak jadi bergabung mandi dengan teman2ku. Cukup sudah suguhan tadi bagiku. Detik berikutnya aku larut dalam lamunanku sendiri. Hari ini, aku merasa malu… malu pada diriku sendiri…
makasih nenek, kau menegur hatiku…
dari apa yg kau lakukan, kau seakan mengatakan padaku,,...

“Nak, Kebahagiaan itu Relatif...”



ya! memang relatif, nek... apa yang membuat aku bahagia, belum tentu membuat orang lain bahagia. Alangkah indahnya, bila standar kebahagiaan kita adalah sesuatu yang sederhana dan begitu mudah kita dapat…

mulai hari ini, Semoga aku tak termasuk orang-orang yg muluk2 menstandarkan arti bahagia. Amin..

20 responses to “Paradoks Ganti Baju & Sebotol Shampoo

  1. nice info.................

  2. hahaha,, ternyata kamu "mata *********" juga...
    BTW, sip... nice share.. :)

  3. muali hari ini, Semoga aku tak termasuk orang-orang yg muluk2 menstandarkan arti bahagia. Amin

    wah, indah sekali kalimat penutupnya.
    semoga aku juga begitu yaa...
    amin!!!

  4. Wah artikele sip Gus...
    hehe..

  5. @All Commenters,,
    Thx Apresiasinya :). jangan bosen2 berkunjung ke blog yg tak seberapa ini ya.. :)

    @Noer,,
    maksudmu apa nih? Mata ***..... wah.... qqq

    @mbak Elsa,,
    Amin... (jd malu, ketahuan salah ketik saya...) ^__^

  6. makasih sharenya sob...
    artikelnya bagus....

  7. halo...mas, memang kadang orang sllu lupa untuk 1 hal .. brsyukur. Smoga qta gak lupa buat mnsyukuri apa yg sudah tuhan beri ke qta.good luck sllu n salam kenal dari dewi ya..

  8. bagiku tersenyum pada sesama udah suatu kbahagiaan meskipun sering kali mereka justru acuh tak acuh

  9. Bahagia itu emang tidak tergantung pada apa yang kita miliki tapi pada apa yang kita rasakan dalam hati, dalam hidup kita...
    Makasih sharenya... salam kenal...

  10. kok ngak diceplok sekali kan gurih rasa ne.

  11. @Li,
    sama2 Li...

    @Dewi,
    Bener Bgt tuh. Amin aja dah, dan Salam Kenal balik ya... :)

    @mas Heru,
    Ijo2 ngga nolak.. huehuehue...

    @Rinto,
    wah,, indah sekali. ingin rasanya saya melihat senyum anda..

    @Cahyadi,
    Setuju! Salam kenal balik, ya...

    @Seri,
    apanya yg diceplok nih? masak shampoo diceplok gurih?
    aya2 wae... hehehe....

  12. MAS...MAMPIR2 KE RMH ( BLOG Q)... SOALNYA TULISAN MAS KEREN...MATURNUWUN

  13. @Dewi,
    Terima kasih, Maturnuwun...
    saya sudah beberapa kali mampir kok,, cm maap.. jarang ninggalin komen.. :-)

  14. Pertama, slam kenal dulu.. nih

    Memang kebahagian itu relatif... seperti saya sangat bagia bisa berkunjung ke blog yang indah ini dan memberi komentar..

  15. makasih sob dah mau mampir ke blog aku, makasih banget, blog bagus banget, artikelnya oke.... hidup blogger!!! semangat

  16. Pengalamannya menarik banget!
    Tapi hati setannya tuh masyaallah... bertobat bro...
    (Wah kayak aku enggak aja!)
    Tapi saya setuju bahwa kenikmatan yang diberikan Allah kepada kita sebenarnya lebih dari cukup cuman kita aja yg gak merasa.. Semoga saya juga pandai bersyukur..
    Salam kenal nih, kunjungi blogku.. Klik disinii

  17. rindu alam ,belum pernak kesana gan....:D

  18. Semoga ya Bro...
    Memang bahagya itu relatif, dan kadang juga membingungkan. Apa yang kadang kita anggap membahagiakan justru akan sebaliknya pada ahirnya.
    Tapi thanks lah udah nyadarin Bunda juga tentang arti bahagya...

Leave a Reply

Terima kasih telah membaca, jika anda berkenan silakan meninggalkan jejak sepatah dua patah Kata.


close
cbox
Cuma Sebuah Tulisan Suram,
Teman curhat di kala galau dan sedih.
Isinya 111,11% adalah sampah.

Absurd. Sengaja dibikin begitu.

Followers