#34

Selaksa tanya,

Aku melangkah mantap. Jauh. Tanpa lelah. Hingga seekor harimau lapar mengejarku. Aku berharap sekali mendapati diriku adalah seorang "julung kembang" yang bernaluri pawang. Sayangnya, aku manusia biasa. Aku pun hanya bisa terus berlari. Menghamburkan sisa² tenaga...

Kebuntuan menghadangku. Aku terjebak dalam pilihan sulit. Tak ada pilihan yang sedikit menyenangkan.

Haruskah aku menenggelamkan diri pada palung cemburu yang dalam? Dengan demikian harimau akan berhenti mengejarku.

Atau aku lebih baik terus berlari ke tengah gurun? Maka aku harus berpuasa dalam kehausan dan kelaparan pikir yang panjang. Harapan hidup pun makin tipis mengingat singa gurun jg menanti.

Atau... aku pasrah saja dan harimau di belakang akan menerkamku. Lalu cerita pun tamat?

Leave a Reply

Terima kasih telah membaca, jika anda berkenan silakan meninggalkan jejak sepatah dua patah Kata.


close
cbox
Cuma Sebuah Tulisan Suram,
Teman curhat di kala galau dan sedih.
Isinya 111,11% adalah sampah.

Absurd. Sengaja dibikin begitu.

Followers