Tidak ada kisah kasih yang lebih menginspirasi di jaman modern ini ketimbang kisah sahabatku.
Aku melihatnya. Aku adalah saksinya. Saksi Mata.
Menikah
Rabu, 8 Mei 2013. Sahabatku menikah. Dengan seorang gadis jelata jelita.
Hari ini adalah kali ketiga mereka bertemu. Dan ini lah hari pernikahan mereka. Ya, mereka baru bertemu dua kali sebelum ini. Pada saat perkenalan dan saat lamaran. Mereka memang masih saudara jauh, tapi mereka belum pernah saling mengenal sebelumnya.
Amin, salah satu sahabat terbaikku. Sosoknya alim, cerdas, dan ramah. Jika melihat fisiknya, aku yakin banyak gadis yang menyukainya. Dia ganteng, bersih, dan tinggi. Dan memang demikian, dimanapun dia berada, selalu saja ada gadis yang naksir atau sekadar nitip salam... :)
Proses pencarian jodoh yang singkat tentunya bukanlah gambaran sulitnya mencari pasangan buat dia. Tapi, itu kekuatan komitmen. Dia memang (yang aku tahu) pernah naksir lawan jenis juga, tapi belum pernah sekalipun pacaran. Setali tiga uang lah sama aku, bedanya aku berpenampilan kurang menarik dan bergelimang dosa zina, sedang dia mampu jaga diri.. muahahahaa. (eh, ini... udah dosa, malah bangga. pake ketawa pula.. damn!).
Bapak dia cerita juga ke aku, kalo anak gadis dari orang terkaya di kampungnya juga naksir dia. Tapi dia nya gak mau... Padahal katanya cakep dan pinterrr. (Enak banget yak jadi ganteng??!)
*ngiri *ngiler di pojokan
Prosesi dan Resepsi
Sudah menjadi trend buat pegawai di Instansi X (tempat kami bekerja) untuk saling berlomba-lomba bikin pesta nikah semegah-megahnya. Tak mau kalah satu sama lain. Semua pingin yang paling WOW!. Dan, kamu bisa menebak apa yang ada di pesta nikahnya Amin...
Yappp, benar. Pestanya cukup sederhana. Hanya dihadiri oleh tetangga dan kerabat dekat saja. Diadakan di dusun, jauh dari kota. Tak ada tetek bengek. Bahkan untaian janur pun tak kulihat disana...
Aku menghayal... bertanya-tanya kepada awang-awang....
Mungkinkah aku bisa begini?
Mau kah orang tuaku menanggalkan tradisi menghambur-hamburkan uang yang terlanjur mengakar di masyarakat kami?
Mungkinkah aku bisa begini?
Mau kah orang tuaku menanggalkan tradisi menghambur-hamburkan uang yang terlanjur mengakar di masyarakat kami?
Tali Kasih Mesra
Aku mendampingi sahabatku dari awal sampai akhir prosesi. Dari akad, sampai semua undangan bubar barrrr.. Aku masih ada. Aku pikir aku sedikit lebay dan lebih heboh ketimbang Sodara2nya. Setelah bapak dan ibunya, aku lah orang pertama yang menyalaminya ketika akad telah dinyatakan sah. Aku membuncah, bahagiaaa sekali.
Ketika panggung pengantin dibuka, aku menatap mereka lekat. Mereka masih malu-malu. Belum sebegitu akrab satu sama lain. Agak sedikit canggung... Lucu... Seperti ini lah mungkin pengantin jaman dulu ketika di pelaminan... Aku membayangkan pelaminan ibuku, pelaminan nenekku.... pelaminan RA Kartini.... terus juga pelaminan... (sudah ah, kebanyakan).
Pre-Wedding???
Sudah jamak di tradisi kita, tiap orang mau nikah itu pada poto2 mesra. Berdua. Poto pre-wedding, katanya. Dan itu sama sekali tak dilakukan sama sahabatku, Amin. Dia memang berfoto mesra, tapi setelah mereka halal... Setelah tamu mulai sepi, kami ke sungai yang tak jauh dari lokasi pesta... berfoto-foto ria. Awalnya, mereka masih agak malu-malu satu sama lain, tapi si Amin lebih banyak berinisiatif memberi sentuhan-sentuhan mesra sehingga lama-lama istrinya pun cukup terbiasa dan tidak kaku...
Ya ampuuunnnn..... Kebayang ngga sih perasaanku waktu itu???
Aku ngiri sekali... Aku kepingin cepet2 nyusul... Aku...
Aku ngiri sekali... Aku kepingin cepet2 nyusul... Aku...
Pokoknyaa... Doakan aku segera nyusul Amin, ya.. Muihihihihihihi... Hupp. Hupp...!

