Seperti malam lain yang biasa kulalui di tempat ini. Malam ini, aku kedatangan tamu lagi. Juga masih sama, tamuku pulang tengah malam. Aku cukup sering dikunjungi teman. Bahkan beberapa teman yang tinggal agak jauh, suka membuat semacam janji dulu sebelum mau kemari. Kayak orang penting sajah.. haha.
Terus terang, Aku bahagia sekali dengan kedatangan mereka. Sungguh. Ingin rasanya aku memberikan layanan terbaik kepada mereka. Tapi tak kulakukan. Aku tak punya cukup ide hendak melakukan apa. Padahal, mereka sangat berjasa di alur sejarahku. Mereka membunuh waktu luangku yang membosankan. Mereka membuatku lepas dari jerat bisu tak bertepi.
Ketika tamuku mulai pulang, meninggalkanku sendiri, aku kembali sepi. Satu hal yang rasanya selalu mengganggu hati ini: "Kapan gantian aku yang silaturahim, berkunjung ke tempat teman/saudara?". Rasanya aku terlampau malas untuk melakukan itu. Terasa memang, dalam hal ini, aku sangat egois dan kurang fair. Aku jarang sekali melakukan kunjungan balik, apalagi berinisiatif mengunjungi. Bahkan telpon, sms, atau chatting sama mereka aja jarang kalo mereka tak memulai lebih dulu. Parah >.<
Selain itu, ada juga konsekuensi yang harus kubayar dari kebahagiaan yang tamu2ku berikan; jam tidurku yg semakin kacau. Kebiasaan kami adalah bercengkrama hingga melewati jam ngantuk. Walhasil, kantuknya malah seringkali ngilang dan susah untuk kembali diundang. Masak iya aku harus begadang? Hari esok ada kuliah pagiii noh!
...............
"Tuhan.... ngantukkan saya, pls.."
Demi apa, saat ini misalnya, tamuku sudah pulang sekitar jam setengah satu tadi. Lalu, aku udah coba tiduran sedari itu, tp gak ngantuk². Aku tidak begitu menikmati ini karena menit-menit yang kulalui sebelum benar-benar bisa tidur justru memancing terjadinya peng-kudetaan pikiran oleh hati. Pikiranku serasa tak bisa dikendalikan sehingga hati sedemikian mudah melumpuhkan malamku. Pikiranku makin jadi ngelantur kemana². Ngayal yg gak jelas juntrungnya. Jd keinget si anu, jd kepikiran ini-itu, blm lg jd rindu sama org yg bahkan mungkin sama sekali tak pernah inget aku. Aihhhh... matekkkkla.
"Jika aku bisa memilih, aku tak mau rindu ini ada. Rindu yg tak berbalas adalah siksa."
Malam ini, aku digalaukan oleh kekuranganku dalam mengendalikan nafsu. Mungkin, lebih khusus yang jenis nafsu lawwamah. Ah, rasanya aku terlampau sombong dan riya menjalani hidup. Padahal apalah aku ini?
Selain nafsu, aku juga masih bermasalah dengan maaf. Tak kupungkiri, rasa marah, kecewa dan sakit hati pernah singgah di hati ini. Ingin rasanya semuanya kulupakan saja. Kumaafkan tanpa sisa. Tetapi, entah kenapa. Satu dua kasus, aku seperti tak berdaya. Aku merasa sudah memaafkan, tapi aku tak bisa bersikap normal seakan aku tak merasa apa-apa. Rasanya, aku gagal menaklukkan hatiku sendiri.
Jika aku bisa merekonstruksi hatiku, aku ingin memasang pintu maaf seluas langit di sana. Aku sadar alangkah dangkal dan seret sekali pintu maafku yg sekarang ini.
Maafkan aku, aku jg tak pernah menginginkan ini. Jiwaku seakan bereaksi sendiri atas segala bentuk tragedi yang melibatkan hati. Glek!
#BahasaLabil #BukanVicky

