Anak Kuper

Aku anak kedua dari dua bersaudara. Kakakku telah menikah dan tinggal bersama suaminya. Aku dibesarkan di sebuah kampung petani di Magelang, Jateng. Orang tuaku hanya lulusan SD, dan kupikir mereka adalah petani yang ulet. Meski berpostur kurus kecil, semangat bertani mereka kadangkala mengalahkan orang-orang sekitarku yang berbadan kekar. Aku kagum pada mereka.

Tetapi bagaimanapun petani hanyalah petani. Apalagi di negeri kita ini, jumlah petani miskin dan petani kaya belum tentu mencapai seribu berbanding satu. Boro-boro berpenghasilan diatas PTKP (Penghasilan Tidak Kena Pajak), berpenghasilan tetap saja sudah syukur. Keseharian petani rata-rata hanya mengandalkan hasil panen yang tak seberapa.


Kehidupan penuh kesederhanaan tak selamanya melahirkan generasi sederhana. Terbukti, kampungku dikenal dengan pemudanya yang gemar tawuran, suka bikin onar… Padahal, kami dibesarkan dalam kesederhanaan. Setidaknya secara ekonomi; sekali lagi, kami hanya anak petani kampung.

Dan kini, sebagian pemudanya telah terkontaminasi dan bergeser pada peradaban yang mereka anggap “gaul” dan “sangat anak muda”. Mabuk-mabukan, nonton bokep, kebut-kebutan, dsb sudah menjadi hal wajar sebagian dari mereka. Benar-benar bukan “orang kampung” yang semestinya hanya terkungkung mengaji di surau-surau.
Menyedihkan, karena aku dibesarkan di lingkungan seperti itu…

Beruntung, jauh hari sebelum aku lahir, kedua orang tuaku sangat mendamba anak laki-laki. Maka tak heran ketika aku lahir mereka senang bukan kepalang. Dan sedikit berlebihan, hari-hari berikutnya mereka sangat memanjakanku.

Sejak mulai berjalan hingga awal duduk di bangku SMP, aku sangat dibatasi dalam bermain dengan anak2 tetangga sebayaku. Tak heran, hampir tak ada temen2 sekampung yang akrab denganku. Aku merasa terisolir…

Ah! Aku sering menjadi bahan ledekan anak2 kampung karena betapa cupunya aku. Kuper.. kuper… kuper…. Teman2ku tak lebih hanya teman2 sekolah dan mengaji.
Dan, ketika aku mulai frustasi, Ibuku tiba-tiba sering menyuruhku main dan bergabung dengan temen2. Aneh, sungguh tak biasa… dan, sudah barang tentu aku tak kan dengan suka hati merubah kebiasaan yang telah mendarah daging, aku juga enggan bergabung dengan komunitas yang suka mendiskreditkan diriku. Aku tak pernah menuruti perintah Ibu yang satu ini. Hanya satu inginku dalam hati, “bagaimana aku bisa terbebas dari kampung yang memuakkan ini…”. Perkembangan berikutnya, Ibu dan kakakku mulai ikut mengatakan aku “anak kuper…”.

sungguh Menyakitkan…

uh! Emang ini salah siapa? Siapa yang membatasiku bergaul waktu aku masih kecil???
aku memaki ketidak-adilan yang kurasakan. Umpatan2 kotor seakan begitu menyatu dengan hati ini. Aku lupa pernah diajar sopan-santun oleh guru sekolah maupun guru ngajiku. Kali ini aku menjelma menjadi pengumpat paling kejam di seluruh dunia. Aku tak berani memberontak pada Orang Tuaku kecuali jika aku merasa hakku sebagai anak sudah terkesampingkan…

ah, apa ini hasil didikan para ustad dan guru yang kuterima, jadi “pengumpat”???


Tidak....! Maafkan aku ....



2 responses to “Anak Kuper

  1. Anonim

    Sama...
    dulu nasibku juga hampir sama denganmu.

    tapi, dunia ini bagaikan roda yg senantiasa berputar. kini, aku telah menemukan sahabat yang selama ini aku impikan...

  2. wah wah

    kok sama ceritane goes

    lebih parah, sekelilingku mengganja dan free-sex

    masih smp dah bunting..gila apa :D

Leave a Reply

Terima kasih telah membaca, jika anda berkenan silakan meninggalkan jejak sepatah dua patah Kata.


close
cbox
Cuma Sebuah Tulisan Suram,
Teman curhat di kala galau dan sedih.
Isinya 111,11% adalah sampah.

Absurd. Sengaja dibikin begitu.

Followers