Aku untuk Negeriku

Indonesia, sebuah negeri dengan segudang suku dan budaya, negeri yang katanya “gemah ripah loh jinawi, tata tentrem, kertaraharja”. Negeri inilah yang telah membesarkanku dengan hasil buminya yang melimpah. Negeri inilah yang telah mendidikku dari saat pertama kali melihat dunia hingga secara nyata jadi mahasiswa “Universitas Kehidupan”.

Orang bilang, Dulu... bundaku sering menimangku dengan sejuta harapan masa depan; segala do’a tak pernah lupa ia panjatkan untukku.

“tak lelo… lelo… leloo… ledung…., anakku sing bagus dewe…”,,
“kalo besar jadi dokter ya, nak…”,
“kalo besar jadi Insinyur ya, nak…”,
“kalo besar pinter ngaji ya, nak…”,
“kalo besar jadi anak soleh ya, nak…”,


Begitu tak bosan-bosannya, berulang-ulang dari hari ke hari.

Mungkin beliau sadar,
“anak adalah asset masa depannya, masa depan dunia dan akhirat”,
“anaklah calon penerus perjuangan bangsa...”.

*****

Waktu sedemikian cepat berlalu, kini aku sudah sedikit mampu menapaki jalan dengan bertumpu pada kakiku sendiri. Tapi, selama ini ada satu pertanyaan yang selalu menjadi momok dalam hidupku, pertanyaan yang sangat sering kita dengar….

“apa cita-citamu?..”,


Sungguh bodoh aku ini, aku bahkan tak tahu kehidupan seperti apa yang aku inginkan. Aku selalu pasrah mengikuti kemana angin takdir menghembusku. Jikalau angin menghembusku ke jalan yang baik, aku senang. Kalau angin menghembusku ke kubangan, aku pun hanya bisa pasrah…

*****


Negeri ini bak angin tornado dalam hidupku, begitu kuat andilnya dalam pencapaianku sekarang.

Bagaimana tidak? Aku makan dari hasil buminya. Aku belajar dari SD hingga SMA di Sekolah-sekolah negeri yang dibangun oleh pemerintah negeri ini. Bahkan saat kuliah, aku dibiayai negeri ini karena aku diterima di salah satu sekolah tinggi kedinasan. Sekolah yang lulusannya langsung dijadikan salah satu aparatur negeri ini dan tentunya makan dari gaji yang diberikan negeri ini juga.

Semula, aku cukup merasa terpaksa akan nasibku. Terutama akan konsekuensi hidup yang harus aku jalani; menjadi perantau yang jauh dari keluarga dan orang-orang yang selama ini dekat denganku.

Aku bekerja ala kadarnya, sebisaku, sesantai yang aku bisa. Kebiasaan telat sudah demikian mendarah daging. Bagiku selama ini yang penting kerjaan kelar dan boss tak memberi komentar apa-apa selain “anak buahku yang satu ini ternyata bodoh”. Sungguh, aku bekerja jauh dibawah kapasitasku.


Seiring berjalannya waktu, aku mulai akrab dengan internet dan blog sebagai pelarian kejenuhanku. Hingga satu hari di minggu-minggu akhir bulan Januari 2009, aku iseng jalan-jalan ke blog orang lain, berharap blogku juga akan dikunjungi balik. Ternyata aku mendapatkan lebih dari yang kuharapkan. Aku lupa blog siapa yang kukunjungi kala itu, yang jelas pemiliknya telah memasang banner “Peserta Aku untuk Negeriku Blog Competition 2009”. Dan demi melihat banner itu, pikiranku langsung tersita dengan angan “apa yang telah kuberikan pada Negeriku selama ini”. Aku lalu segera turut ambil bagian dalam kompetisi ini.

Tema “Aku untuk Negeriku” selalu terngiang dalam angan dalam hari-hari berikutnya . Lalu akhirnya semakin kusadari betapa besarnya jasa negeri ini terhadap kehidupanku, sedang masih sedemikian kecil andilku pada negeri ini.

Mengingat itu semua, aku membayangkan rakyat negeri ini yang nasibnya jauh lebih menyedihkan dariku. Baru kusadari ternyata mereka sangat banyak. Aku mulai belajar bersyukur. Aku berniat untuk bersungguh-sungguh dalam mengabdi pada negeri ini. Alhasil, semangatku dalam bekerja seakan terpompa lagi. Meski tak istimewa, setidaknya sudah menuju perbaikan.

Angin telah membawaku menjadi Abdi Negara, yang sejatinya justru memerangkapku masuk ke negeri tikus. Kini aku berada di tengah komunitas yang sedemikian gencarnya disorot lembaga yang kesetanan dengan informasi yang berbau korupsi, “Transparency International Indonesia - The Global Coalition Against Corruption”.

hmmmh,,.. bagaimanapun, hingga detik ini aku masih setuju dengan hipotesa Harun Yahya bahwa
"di dunia ini tak ada yang terjadi secara kebetulan...".


Kembali teringat nasib orang, aku mecoba berkomitmen untuk berusaha sebisaku untuk tak pernah korupsi. Aku teringat sebuah hadits yang dulu pernah kudengar, hadits yang memotivasiku untuk tetap menolak korupsi.

"barang siapa menjaga diri dari yang Haram, maka ia akan mendapatkan yang haram itu pada saat halalnya" (al-hadits)

Aku bermimpi bisa mengubah Negeri ini menjadi Negeri yang bebas KKN.

Tapi, aku punya sebuah kesimpulan pribadi dari pengalaman hidup orang yang pernah kubaca atau kudengar,
“Jika punya keinginan yang muluk-muluk untuk merubah dunia, justru biasanya tak ada hasil alias hanya sekedar angan;
bahkan kampung/keluarga sendiri pun belum tentu berubah”.


Kupikir… langkah terbaik adalah mengikuti “Seni Mengubah Bangsa a la Aa Gym”, yaitu:

• Mulai dari diri sendiri,
• Mulai dari yang kecil-kecil, dan
• Mulai dari sekarang…

Semoga ke depan aku mampu berbagi hal-hal positif pada semua orang, pada dunia....
Sungguh, aku ingin jadi Manusia yang berguna...



______

Terima Kasih Pak Bugiakso; Tema-mu telah "menegurku",
Terima Kasih Negeriku; Jasamu tak kan kulupakan,
Terima Kasih Tuhan; Engkaulah Pengendali angin, Penuntun hidupku…




7 responses to “Aku untuk Negeriku

  1. hi!! what idiom is it? It seems Türkiye but I don't think it is, well, bye bye

  2. @sibisse,
    hi, too. thanks for visiting.
    Yeah Sibisse, You're right! It's Indonesian not Türkiye...

  3. "anak buahku yang satu ini ternyata bodoh."

    tenane boss-mu komen ngunu kui?
    or cuman halusinasimu amargo sentimen-berlebihan ke bos yang suka bokep?

    tapi kalo emang bener,bos macem apa dia...
    biar kata bos, teteup mesti punya etika prfesi!!!
    tau manajemen ga dia?

    *)koq aku yang sewot?

  4. @Topique,
    nggak lah, itu cuma halusinasiku.
    Boss`ku baik dan pengertian. Boss`ku selama kantor modern keren2 kok...
    Boss pertama, pas awal masa transisi, langsung di Mutasi ke kanwil....
    bagaimanapun, eksten emang seksi yang gak bisa santai. apalagi karena minimnya pegawai di seksiku. boss baruku yang semula tipikal santai pun terpaksa banting stir, dan hikmahnya sekarang jadi "rajin abis"... hehehe,,

    *)eh, apa sih bedanya "rajin abis" sama "workaholic"?

  5. Anonim

    Mimpimu sangat terpuji, Nak...
    Niatmu telah di dengar sang Kuasa...
    Semoga keinginanmu untuk merubah negeri ini terkabul.
    "Laskar Petruk" masih miris dengan fenomena yang terjadi di negeri kita ini...

  6. @Laskar Petruk,
    Terima Kasih banyak, "do'amu menambah asaku..".

  7. bingung nih...mau komentar apa??

Leave a Reply

Terima kasih telah membaca, jika anda berkenan silakan meninggalkan jejak sepatah dua patah Kata.


close
cbox
Cuma Sebuah Tulisan Suram,
Teman curhat di kala galau dan sedih.
Isinya 111,11% adalah sampah.

Absurd. Sengaja dibikin begitu.

Followers