![]() |
| Hujan Penutup Sore di PJMI |
Sayang, ternyata hujan yang kunanti datang juga di penghujung sore ini. Seperti biasanya, dia berisik sekali, seperti tangis bayi yang tak kunjung henti, membahagiakan sekaligus mengkhawatirkan kalau-kalau ada sesuatu terjadi di luar keinginan.
Kunikmati sendiri percik-percik ini, tanpa kamu. Lagi dan lagi, hujan ini monumental...
Melihat tetes demi tetes berjatuhan serasa melihat teater yang dimainkan oleh bakat alam, yang menarik dan sarat pesan moral. Hujan ini, tak pernah minta maaf telah membasahi tubuhku, bahkan membuatku sedikit meriang. Aku terima karena aku tahu benar, sesungguhnya itu adalah cara hujan mengekspresikan cintanya kepada bumi. Segala yang dilakukan atas nama cinta itu termaafkan, meski kadang menyakitkan.
Aliran-aliran kecil, membelai lembut atap dan dinding bangunan-bangunan berdebu. Melalui sisi kaca jendela aku melihatnya, pelan dan tulus sekali. Diam-diam, aku iri pada bangunan-bangunan ini.
Petir menyambar-nyambar, kilat berkedip-kedip mencari mangsa, dan suara gemuruh berulang terdengar lebih memedihkan daripada erangan perut yang lapar. Ya, tentu saja, cinta hujan kepada bumi harus ada bumbunya.
Di ujung sore ini, aku mencari-cari arti sepi. Yang kudapat… sepi itu kesendirian. Dan kesendirian ini memancing pikiranku untuk menjadi sosokku yang lain; Aku yang liar sekali.
Tak terasa aku telah berhenti menulis dari tadi… lama sekali… sepi ini mencekat kerongkonganku.
Tak terasa aku telah berhenti menulis dari tadi… lama sekali… sepi ini mencekat kerongkonganku.

.gif)


tempat ane gak ujan2 sob :D
@Aldio, emang posisi dimana sob?
Wah tema blognya baru bo0s...! iya hujan telah menolongku, semoela rencana mau ndisel (mengairi sawah pakai disel dari sungai) eh ternyata hjan turun. COcok cocok haha...