Kenapa Menulis?

Aku menulis ketika perasaanku tak enak. Rasanya bagaikan sedang membuang sampah perasaan ketika aku melakukannya. Beban hidup yang berat, terasa hilang sebagian; sesaat setelah aku menuliskannya. Menulis, sungguh aktivitas yang mengandung sihir yang luar biasa. Seperti merapal mantera.


Kata-kataku jelas tak sehebat kata-kata magis ciptaan A.A Navis, bahkan ketika dia menuliskannya pada saat masih berusia 10 tahun. Aku tak punya bakat spesial di dunia tulis-menulis... sama sekali tidak. Tapi aku bersyukur, karena aku masih dikarunia mimpi; Mimpi untuk tiba2 bisa menulis... *errrrr...

Mempublikasikan tulisan ke ranah publik adalah satu momok yang super menakutkan. Bagaimana tidak? ini jelas-jelas mempublikasikan eksistensi diri, dimana apa yg disampaikan adalah cerminan pribadi penulisnya. Salah-salah, nanti akhirnya justru akan jadi bumerang.

Awalnya aku ngerasa takut juga, tapi lama kelamaan cuek. Aku tak peduli publikasi di blogku ini bakal menjadikanku cemoohan orang, bahkan sebenernya aku pesimis tiap postinganku ini dibaca orang atau tidak. Sungguh aku tak begitu peduli.

Blogku ini, dapat diakses oleh siapa saja. Saya berterima kasih sekali jika Anda bersedia mampir dan membaca. Tidak pun tak apa.

Aku pernah baca satu postingan di kompasiana yang mana sampe sekarang masih menyemangatiku untuk (kadangkala) menyempatkan diri untuk merangkai-rangkai kata. Dalam postingan tersebut, penulis kurang lebih menyampaikan: "seorang seniman akan tetap berkarya apapun kata orang akan karyanya, seorang penulis akan tetap menulis meski kini tak ada pembacanya. Karena tulisan ataupun karya seni lainnya, akan menemukan sendiri penikmatnya."


Gaya bahasaku yang ga pernah stabil dalam penulisan blog ini lebih dipengaruhi oleh apa yg baru aku dapat/alami pada waktu aku menuliskannya... Sangat tidak bermutu sekali. Tanpa alur yang jelas. Tapi aku tak peduli. Sepertinya terus-terusan nulis ngawur gini justru keren sebagai jalan pencarian jati diri dan ciri khas.

Akhir kata, semoga yang baca postinganku ini jadi kepingin ikut2an nulis. Karena, yakin deh, selagi ga nulis yg ngelanggar tata krama, insyaAllah tulisan kamu (eh, Anda) bakal berguna. Ya, sebagai latihan untuk bisa nulis lebih baik. Ya, untuk mengungkapkan isi hati. Ya, untuk berbagi pengetahuan. Menulis itu bukti kalo kita punya ilmu, Suer! Gak mungkin bisa nulis kalo isi otak kita kosong-mlompong...
(pasti tuh! wajib punya ilmu buat bisa nulis, meskipun cetek ^_^)

One response to “Kenapa Menulis?

Leave a Reply

Terima kasih telah membaca, jika anda berkenan silakan meninggalkan jejak sepatah dua patah Kata.


close
cbox
Cuma Sebuah Tulisan Suram,
Teman curhat di kala galau dan sedih.
Isinya 111,11% adalah sampah.

Absurd. Sengaja dibikin begitu.

Followers