Engkau tak lg monumental. Engkau datang hampir setiap waktu akhir-akhir ini. Seperti hendak menghapus rindu yg berkarak di hatiku. Aku bosan.
Aku mencari-cari bulan dan matahari. Mereka adalah sahabat terbaikku. Sahabat yg sayangnya aku selalu tak mampu menyatukan mereka denganmu. Yah, Kehadiranmu selalu membutakan mataku, sehingga aku tak mampu melihat mereka. Bahkan, Kau membuat aku amnesia, aku lupa mereka ada...
Sayang, kini engkau bagai cermin retak... dan rintikmu adalah serpihan2 kecil. Aku sedih sekaligus bahagia. Aku sedih karena aku tak lagi bisa mengharap pantulan bayangan sempurna akan rinduku padamu. Pantulan yg kuharapkan; yaitu rindumu. Tapi aku cukup bahagia, karena dg retak ini, aku bisa melihat tawa mentari di siang hari, dan senyum rembulan pada malamnya.
(hujan yg berbeda. edisi lbh dingin)

