Aku menulis lagi. Aku kurang nyaman berlama-lama di bilik #23. Dan kutahu, #24 adalah bilik sakral yang sudah semestinya tak aku lewatkan malam ini. Alasannya, 24 adalah kelipatan 12. Angka tahun yg bbrp menit lagi akan tinggal sejarah. 23, 24, dan 12; tiga bilangan yang merupakan nilai variable kenangan tahun ini. Cukup. Itu saja. biar aku saja yang menggalaukannya :)
Tentang sahabat dan matematika
Sahabatku waktu SMP tiba² datang ke rumah tadi pagi. Ini kali pertama kami bertemu setelah 9 tahun lost contact. Aku masih tidur waktu dia datang. Dia sudah banyak berubah. Tapi aku tetap ngefans sama jagoan matematika yang satu itu. Latar belakang dan daya juang yang dia punya cukup menginspirasi.
Aku ingat sekali waktu SMP dulu, aku sempat iri padanya. Semua guru memujinya, tanpa kecuali. Hingga satu hari aku berhasil merebut perhatian beberapa guru dengan menghapus predikat bandelku dan mulai memutus dominasinya. Waktu berjalan, dan kami mulai dibanding²kan. Sayang sekali, kami tak pernah sekelas.
Pernah satu waktu aku main ke ruang guru di jam istirahat. Dan ada aja guru iseng yg tiba² bikin voting lucu²an siapa yg lebih baik antara aku dan dia. Aku senang sekali kala kutahu guru Matematika dan guru Bahasa Inggris memilihku. Rasanya, dukungan dua guru itu lebih berharga ketimbang berapapun dukungan guru lain.
Tapi cinta dia kepada matematika terbukti lbh besar drpada yg kurasakan. Buktinya, dia kuliah ambil jurusan matematika. Cukup.
Tapi bukan itu yg menarik...
sahabatku ini berlatar dr keluarga broken home. Bapaknya kabur bersama wanita lain --ninggalin bundanya sahabatku itu. Tak pernah ngasih nafkah juga. (dunia emang kejam, Vroh). Walhasil, dia kudu hidup (yg menurutku) susah. Setidaknya, aku lihat aku jauh lbh beruntung dr dia. Dia sekolah ngandelin beasiswa, dr SD sampe Kuliah. Waktu SMP dulu, dia suka bantu ibunya bikin sapu ijuk. Trs pas SMA ngikut orang, bantu2 di rumahnya. Dan sebelum kuliah, dia kerja dulu. Nabung buat biaya kuliah. Pas kuliah jg dia nyambi kerja buat menuhin kebutuhan sehari2 dia.
Kisahnya memang kisah klasik dan basi, sudah sangat banyak kisah serupa. Tapi, mengenal pelakunya dr dekat terasa lebih memberi rasa haru.

