dek YA ~

Jika kisahku berikutnya adalah tentang YA, maka mudahkanlah ya Allah....

Akhir-akhir ini, segala sesuatu tentang YA semakin akrab di telinga. Tiba-tiba, paman dan bibi, bahkan ibuku sendiri membicarakannya. Mereka semua sering berandai-andai, semisal aku bersama YA. Pamanku bilang, YA akan bagus untuk memakmurkan masjid kami. Dan juga mewujudkan cita-cita mbahku untuk punya generasi huffadz. Ibuku yang (bahkan) tidak dibesarkan oleh lingkungan agamis pun seperti setuju-setuju saja. Aku kaget ketika tiba-tiba ibuku bilang, "kalau mau sama YA, biar Bapak sama Paman datang ke rumahnya, bilang sama orang tuanya,, ya itupun kalo kamu suka. Jaman sekarang, nyari istri yang ngerti agama itu susah. InsyaAllah kalo YA sih ya anaknya baik lah.".

YA adalah sahabat kecilku. Dulu kami tumbuh bersama. Melewati masa kanak bersama. Kala itu, hampir tak sedetikpun terpisahkan satu sama lain. Makan sepiring berdua, tidur bersama, berbagi ini dan itu. Kami, ah ya, itu adalah masa kecil membahagiakan dan tak terlupakan. Aku nyaris tak butuh teman lain selain YA.

Sejak lulus SD, kami dipisahkan oleh takdir. Kami melanjutkan pendidikan di tempat yang berbeda. Jauh. Kami nyaris tak pernah bertemu lagi. Bahkan ketika hari raya lebaran.

Kini 14 tahun sudah berlalu sejak terakhir kali kami akrab. Aku dan YA seperti tak pernah saling kenal. Dia benar-benar asing. Dia telah menyelesaikan pendidikan S2-nya, dan 1-2 bulan kedepan akan selesai menghapalkan alQur'an 30 Juz penuh, begitu kabar yang aku dengar dari paman. Dia gadis cerdas dan selalu juara di kelasnya. YA, dia yang pendiam lagi berbakti kepada orang tua.

"Kamu kalo bisa menikah sebelum usia 26, Kalau suka sama YA sih aku ya setuju2 aja.", begitu kata Ibuku barusan sembari mengulang lagi apa yang pernah disampaikan paman padaku sebagaimana jabaran diatas.

"Ibu, Aku belum pernah naksir akhwat kecuali kami telah sering beraktifitas bareng.", kataku pada ibu. "Aku tak merasa ada masalah jika memang jodohku adalah YA, aku akan bisa mencintainya sepenuh hati seiring berjalannya waktu. Aku yakin itu.".

Tapi, aku tak cukup berani. Pendidikannya jauh lebih tinggi dariku. Dia lebih pintar. Aku sedikit minder. Aku juga tak yakin, mungkin sudah ada seorang laki-laki soleh yang diam-diam telah memikat hatinya. Aku sama sekali buta tentang dia yang sekarang.

YA, secara fisik mungkin tak seberapa cantik. Nyaris tak pernah kulihat dia bersolek. Badannya kurus dan kecil. Tapi fisik adalah pertimbangan kesekianku dalam mencari istri. Jadi itu sama sekali bukan soal.

Sejujurnya, ketika Ibu menyinggung soal YA tadi, dalam hati kecil ini aku berteriak, "Aku mauu! Aku mauuu! Aku mau sama YA...!", tapi aku malu sekali untuk mengungkapkannya. Ah, ntah lah.

Dalam anganku kini; aku seperti tak punya bayangan masa depan, apa yang harus aku lakukan jika a, b, c, ataupun d. Jika dia jadi pasanganku kelak, sepertinya terlalu bejat jika aku mengajaknya ke bioskop, ke karaoke, dan sejenisnya. Aku takut hal-hal semacam itu akan mengikis hapalan al-Qur'annya. Lalu apa hiburan yang cocok untuk membahagiakannya? Aku juga belum punya cukup uang untuk mengajaknya jalan-jalan. Aku pingin sekali, manjain istri jalan-jalan bareng di awal pernikahan. Semacam bulan madu. pacaran pasca nikah, atau apalah itu namanya. Dari beberapa pengalaman temen, biasanya tak sempat lg ngajak jalan2 istri ketika si Istri sdh mulai hamil.

Ah, ya tapi entahlah. Biarkan angin saja yang membawa nasib kami kedepan. Jodohku tak kan tertukar. Jika YA memang jodohku, ya Alhamdulillah. Kalaupun tidak, semoga dia mendapat imam terbaik.

Leave a Reply

Terima kasih telah membaca, jika anda berkenan silakan meninggalkan jejak sepatah dua patah Kata.


close
cbox
Cuma Sebuah Tulisan Suram,
Teman curhat di kala galau dan sedih.
Isinya 111,11% adalah sampah.

Absurd. Sengaja dibikin begitu.

Followers